Warta
Sowan ke Abuya Muhtadi Banten, Gus Yahya 'Njamu Spiritual'
Abah Muh berpesan agar NU sebagai organisasi Islam terbesar, terus mengambil peran sentral dalam merawat dan memperkuat ukhuwah (persaudaraan) di kalangan umat Islam dan seluruh elemen bangsa.
BANTEN (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dikenal dekat dengan para ulama sepuh. Gus Yahya juga rajin sowan ke kediaman para kiai sepuh NU tersebut. Misalnya mantan Juru Bicara Gus Dur ini sowan ke kediaman ulama kharismatik Banten, Abuya Muhtadi Dimyathi, di Cidahu, Pandeglang, Banten.
"Dunia memang kecil. Berkali-kali saya merasa, di hadapan Abah Muh, Abuya Muhtadi Dimyathi, Mustasyar PBNU, saya njamu, “jamu spiritual”, keluasan spiritual Beliau menjadi peringan beban yang ngglendhoti tubuh ini. Alhamdulillah," kata Gus Yahya dikutip dari unggahannya di Instagram Selasa (21/7/2026).
Saat sowan ke kediaman Abuya Muhtadi Dimyathi pada tahun lalu, Gus Yahya disambut Abah Muh dengan penuh kehangatan. Gus Yahya didampingi Wakil Ketua Umum PBNU, KH Amin Said Husni. Pertemuan seperti itu merupakan tradisi yang selalu dijaga oleh Gus Yahya dan para pimpinan Nahdlatul Ulama dalam rangka meminta doa, nasihat, dan restu dari sesepuh ulama.
Abuya Muhtadi, yang dikenal sebagai salah satu ulama rujukan Nahdliyin, menyambut baik kedatangan rombongan PBNU. Dalam perbincangan yang berlangsung akrab, Abuya Muhtadi menyampaikan pesan penting yang menjadi penekanan utama, yaitu mengenai persatuan umat.
Beliau berpesan agar Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi Islam terbesar, terus mengambil peran sentral dalam merawat dan memperkuat ukhuwah (persaudaraan) di kalangan umat Islam dan seluruh elemen bangsa. Abuya Muhtadi mengingatkan bahwa persatuan adalah kunci kekuatan umat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, serta landasan utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Abah Muh adalah figur ulama kharismatik, mutafannin, dengan kesederhanaan yang khas,” tutur Gus Yahya.
Ia menuturkan, dalam suasana hangat penuh keakraban, dirinya dan rombongan “ndoprok” khidmat mendengarkan nasihat-nasihat penuh hikmah dari Abuya Muhtadi.
Dalam wejangan tersebut, Abuya berpesan agar NU terus menjaga persatuan umat dan memperkuat peranannya dalam merawat ukhuwah sekaligus mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Beliau mengingatkan betapa pentingnya persatuan umat dan peran NU dalam merawat ukhuwah serta menjaga keutuhan NKRI,” ujar Gus Yahya.
Silaturahmi ini menjadi momen penuh makna yang menegaskan kembali komitmen NU dalam menjaga persaudaraan dan harmoni di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Abah Muh lahir pada 26 Desember 1953 di Kampung Cidahu, Desa Tanagara, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Abuya Dimyathi bin KH. M. Amin al-Bantany dengan Nyai. Hj. Asma' binti KH. ‘Abdul Halim Al-Makky.
Abuya Muhtadi Dimyathi adalah seorang ulama yang ahli tirakat, bahkan semenjak umur 18 tahun sampai sekarang beliau masih menjalani Shaumuddahri/puasa setiap hari bertahun tahun. Setelah ayahandanya wafat, Abuya Muhtadi Dimyathi ini melanjutkan kepemimpinan pesantren.
Beliau pun menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Roudotul 'Ulum Cidahu, Pandeglang.
Majelis tersebut kerap kali dihadiri oleh para kiai alim ulama seantero Banten juga para santri-santri yang ikut mengaji dengan beliau.
Karena, pada setiap hari terutama di hari Sabtu, Ahad dan Senin, di Majlis Ta’lim ini beliau membuka pengajian, dengan menggunakan bahan kajian berbagai kitab kuning, di antaranya: Kitab Raudlatut Tholibin, Mughnil Muhtaj, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Al-Ghunyah Li Tholibi Thariqil Haq, Ihya Ulumiddin, Shohih Muslim, An-Nasyr Fi Qiro'atil ‘Asyr dan lain-lain.
Beliau terkenal sebagai seorang tokoh ulama kharismatik dan mufti syafi'iyyah dari Banten yang memberikan bimbingan dan nasihat kepada para pengikutnya.
Pengajarannya meliputi berbagai aspek kehidupan, termasuk agama, moralitas, dan etika. Abuya Muhtadi Cidahu juga dianggap memiliki karisma khusus dalam menyampaikan ajarannya dan membimbing umat. (jok)