Warta / Internasional
Selamatkan Korban Kebakaran, Muslim India Dijuluki Pahlawan
Umat Islam kerap mengalami persekusi dan diskriminasi di India. Namun, umat Islam tetap menunjukkan solidaritasnya menolong korban kebakaran hotel di Delhi.
NEW DELHI (SuaraNahdliyin.id) – Umat Islam kerap mengalami persekusi dan diskriminasi di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Namun, umat Islam tetap menunjukkan solidaritas dan kebersamaannya saat terjadi kebakaran hotel di Delhi.
Tragedi itu terjadi pada pagi hari, Rabu (3/6/2026). Kebakaran dahsyat melanda Hotel Flourish Stay B&B di kawasan Malviya Nagar Hauz Rani di ibu kota India, Delhi.
Lokasi kebakaran terjadi di gedung bertingkat yang populer di kalangan wisatawan medis asing namun memiliki pelanggaran keamanan yang parah. Hanya ada satu titik masuk-keluar, sementara ruangannya diduga jauh lebih banyak dari yang diizinkan, jendela terkunci, dan tidak ada izin kebakaran yang memadai.
Seperti dikutip dari TRT, setidaknya 21 orang tewas, banyak di antaranya warga negara asing, dan lebih dari 40 orang berhasil diselamatkan di tengah kekacauan saat para tamu melompat dari lantai atas. Saat itu petugas tanggap kebakaran resmi mendapat kritik atas keterlambatan kedatangan mereka, sehingga warga setempat segera bertindak.
Warga memecahkan jendela dengan palu, melempar tali, menggendong korban di pundak mereka, melakukan pernapasan buatan (CPR) pada orang yang tidak sadarkan diri, termasuk pasangan asing dan warga Nigeria yang ditemukan di kamar mandi, dan yang terpenting, membentangkan kasur dan seprai di tanah untuk meredam lompatan dari lantai atas. Mereka yang berjibaku menolong korban sebagian besar muslim.
Beberapa orang menderita luka akibat kaca dan puing-puing tetapi tetap berjalan. Namun, berkat para muslim setempat, banyak korban terselamatkan. Mereka dipuji sebagai pahlawan.
Umat Islam, yang merupakan 14-15 persen dari populasi India, menghadapi kekerasan yang meningkat dan diskriminasi dalam beberapa tahun terakhir. Laporan dan survei soal kekerasan SARA ini mendokumentasikan kejadian-kejadian seperti main hakim sendiri terkait sapi, kesenjangan sosial ekonomi, dan retorika politik anti-Muslim.
Muslim India harus sering menghadapi stereotip yang menghubungkan mereka dengan ekstremisme atau ketidaksetiaan terhadap negara, meskipun mereka sangat terintegrasi dalam profesi, seni, olahraga, bisnis, dan kehidupan sipil sehari-hari.
Dengan latar belakang ini, kebakaran Malviya Nagar menjadi hal yang menonjol: Laki-laki Muslim biasa, pemilik toko, pengacara, pedagang, mempertaruhkan nyawa mereka demi orang asing, banyak dari mereka adalah orang asing, tanpa memandang agama, kebangsaan atau latar belakang. Para muslim itu pun dipuji sebagai pahlawan. (rpk/jok)