Warta / Internasional
Sejumlah Ulama Ikut Delegasi RI Hadiri Pemakaman Ali Khamenei, Gus Yahya Diminta Langsung Oleh Presiden Prabowo
Ketua PCNU dari Kebumen, Jawa Tengah, Dr. H. Imam Satibi, M.Pd.I. menilai kapasitas internasional adalah pembeda antara Gus Yahya dengan penantangnya pada Muktamar ke-35 NU nanti.
JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), diminta langsung oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan sejumlah ulama lain, serta Ketua MPR RI Ahmad Muzani, dan Menteri Luar Negeri Sugiono, untuk menghadiri prosesi pemakaman jenazah Ayatollah Ali Khamenei, di kota kelahiran almarhum Pemimpin Tertinggi Iran itu, Kota Mashhad, Jumat (10/7/2026) pagi WIB. Rombongan delegasi RI bertolak menuju Iran dengan pesawat kepresidenan dari Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta Kamis malam ini dan sampai di Kota Mashhad, Jumat pagi besok.
Presiden Prabowo Subianto meminta secara langsung Gus Yahya untuk menjadi bagian utusan khusus delegasi RI yang melakukan penghormatan terhadap almarhum Ali Khamenei lantaran Ketua Umum PBNU itu dinilai aktif menggalang perdamaian di tengah kecamuk perang Amerika Serikat dengan Iran yang masih berlangsung hingga hari ini. Hal itu ditunjukkan dengan serangkaian "safari perdamaian" yang dilakukan oleh Gus Yahya dan jajaran PBNU, dengan menemui Dubes Iran di Jakarta, Dubes AS, dan dubes negara lain untuk misi meredakan konflik di Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mewengkang, pada press briefing di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Kamis (9/7/2026), mengatakan, delegasi Indonesia dijadwalkan menghadiri rangkaian penghormatan bagi almarhum Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di kota Mashhad, sekaligus menggelar pertemuan bilateral dengan pemerintah Iran.
"Dalam kunjungan ini juga akan turut serta dari PBNU dan juga Muhammadiyah bersama-sama dengan Pak Menlu RI dan Ketua MPR," kata Yvonne.
Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, saat press briefing di Ruang Palapa Kemlu RI, Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Yvonne memastikan keberangkatan delegasi Indonesia tetap berjalan sesuai jadwal meski sebagian wilayah udara Iran masih ditutup akibat situasi keamanan di kawasan. "Sampai saat ini yang dapat kami sampaikan bahwa kunjungan Menlu RI ke Iran on schedule. Beliau akan berangkat malam ini," ujarnya.
Ia menambahkan Kemlu terus berkoordinasi dengan KBRI di Teheran, termasuk Duta Besar RI untuk Iran, Rolliansyah Soemirat atau akrab disapa Roy, guna memantau perkembangan situasi di lapangan. "Sampai saat ini kami in close contact dengan Dubes kita Pak Roy di Teheran dan sejauh ini sebagaimana saya sampaikan perjalanan Menlu RI ke Iran on schedule," jelasnya.
Selain menghadiri penghormatan bagi Ali Khamenei, Menlu Sugiono dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral dengan Menlu Iran pada Jumat (10/7) guna memperkuat hubungan kedua negara.
"Pertemuan bilateral antara Menteri Luar Negeri Republik Indonesia dengan Menlu Iran diharapkan semakin memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Iran, memperdalam kerja sama di berbagai bidang prioritas tentunya, serta mempercepat koordinasi kedua negara dalam menghadapi berbagai tantangan regional dan juga global," kata Yvonne.
Sementara itu, Ketua MPR Ahmad Muzani akan bertemu Ketua Parlemen Iran untuk memperkuat kerja sama antarlembaga legislatif kedua negara.
Menanggapi pertanyaan mengenai keikutsertaan Ketua MPR, Ketua Umum PBNU, dan Muhammadiyah dalam delegasi Indonesia, Yvonne menegaskan rombongan tersebut mewakili bangsa Indonesia. "Yang dapat saya sampaikan adalah ini perwakilan bangsa Indonesia mengunjungi negara sahabat," ujarnya.
"Dan ini semakin mencerminkan eratnya hubungan kedua negara yaitu Indonesia dan Iran dan kembali lagi menegaskan konsistensi prinsip politik luar negeri kita yang bebas aktif," tambah Yvonne.
Usai pertemuan bilateral dengan Iran, Sugiono akan melanjutkan agenda ke Bangkok untuk menghadiri pertemuan informal para Menteri Luar Negeri ASEAN yang membahas perkembangan situasi di Myanmar pada Minggu (12/7) mendatang.
BACA JUGA:
-Catur Diplomasi Gus Yahya yang Belum Tertandingi
Seperti diketahui, Gus Yahya, yang juga bersama Menlu Sugiono, dikenal aktif menggalang perdamaian dunia. Di tanah air, Gus Yahya antaralain menemui Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammed Boroujerdi, di Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (27/3/2026). Dalam pertemuan tersebut, Gus Yahya menyampaikan dukungan solidaritas moral atas situasi perang yang dihadapi bangsa Iran.
“Gus Yahya menyampaikan bahwa hati dan pikirannya tertuju untuk mendoakan bangsa Iran. Beliau berharap perang ini segera berakhir,” kata Ketua PBNU Rumadi Ahmad.
Selain itu, untuk misi yang sama, Gus Yahya juga menyambangi Duta Besar Kerajaan Arab Saudi, Syekh Faisal Abdullah Al-Amudi, di Kantor Kedutaan Kerajaan Arab Saudi, Kuningan, Jakarta, pada Selasa (31/3/2026). Kemudian Gus Yahya melanjutkan misi perdamaian menemui Duta Besar Amerika Serikat (AS), Peter Mark Haymond, di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/4/2026). Gus Yahya mendorong komunikasi yang intens antara pemerintah AS dan Republik Islam Iran guna segera mengakhiri perang dan ketegangan di kawasan Teluk.
Bukan hanya itu, Gus Yahya juga mengunjungi Kedubes negara lain seperti Dubes Turki untuk Indonesia, Prof. Dr. Talip Küçükca pada 9 April 2026 dan Dubes Rusia Sergei Genadievic Tolchenov pada 24 April 2026 untuk misi perdamaian dunia, khususnya di kawasan Teluk. Di tengah kesibukannya mempersiapkan Muktamar ke-35 NU yang sudah ditetapkan akan digelar di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026 mendatang, Gus Yahya masih meluangkan waktu untuk misi perdamaian dunia tersebut.
" Gus Yahya juga mendukung Indonesia untuk bergabung dalam badan dunia Board of Peace sebagai jalur alternatif diplomatik demi memberikan perlindungan dan bantuan konkret bagi warga Palestina. Semua upaya Gus Yahya dan PBNU itu mendapat apresiasi dari Presiden Prabowo, sehingga Beliau diminta ikut menjadi bagian dari delegasi RI ke Iran, " kata sumber yang dekat kalangan Istana Presiden, Kamis siang.
Sebenarnya diplomasi global untuk mendukung program Presiden Prabowo menjadi bagian mengatasi konflik di Timur Tengah itu bisa dilakukan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar mewakili Pemerintah RI. Khususnya terkait peran agama dalam dialog lintas agama guna menggalang perdamaian dunia. "Tapi dalam hal ini, peran Gus Yahya sangat besar," kata seorang kader NU Jombang.
Ketua PCNU dari Kebumen, Jawa Tengah, Dr. H. Imam Satibi, M.Pd.I. juga menilai sama. Kapasitas internasional adalah pembeda antara Gus Yahya dengan penantangnya pada Muktamar ke-35 NU nanti.
Peran global NU ini untuk membumikan pandangan kemanusiaan yang universal. NU berupaya memanfaatkan jaringan dan simpul-simpul global mereka. Ulama NU yang sering berdiskusi dengan ulama internasional atau bahkan pemuka agama dari negara lain serta otoritas politik adalah bagian dari upaya membumikan pandangan tersebut.
Dalam beberapa kesempatan, misalnya, NU juga terlibat upaya penyelesaian konflik di Afghanistan. NU pernah dilibatkan dalam negosiasi dengan kelompok Taliban. Ketertarikan ulama Afghanistan pada nilai-nilai NU membuat mereka mendirikan NU Afghanistan.
Gus Yahya sendiri mengakui, peran dan keterlibatan NU di kancah global masih perlu diperkuat. Yang jelas, membagikan pandangan dan visi kemanusiaan universal dengan pihak lain telah menjadi bagian dari upaya dan keinginan NU untuk tampil mengglobal.
”NU sebagai bagian dari bangsa Indonesia punya mandat dari para pendiri untuk melakukan hal ini. Kalau Indonesia tidak bergerak, kita mengkhianati mandat para pendiri bangsa,” kata Gus Yahya kepada media dalam beberapa kesempatan.
Seperti diberitakan SuaraNahdliyin.id sebelumnya, sejumlah ulama akan menjadi bagian delegasi RI ke Iran. "Iya (saya dan Menlu ikut ke Iran), sama beberapa ulama yang akan menyertai," kata Ahmad Muzani saat ditemui di Gedung MK, Jakarta Pusat. Muzani membenarkan delegasi dari Indonesia direncanakan berangkat dengan pesawat terbang dari Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta ke Mashhad pada Kamis (9/7/2026) malam ini.
"Kita akan terbang langsung dari Jakarta menuju Masyhad, kota yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Ayatollah Ali Khamenei. Diperkirakan rombongan akan sampai di Masyhad hari Jumat jam 06.00," katanya.
Rombongan delegasi Indonesia besok akan diterima secara resmi oleh perwakilan dari pemerintah Iran. "Kemudian sebelum Jumatan kita diharapkan sudah bisa sampai ke tempat peristirahatan terakhir, makam Imam Ali Khamenei, dan setelah itu kita akan diterima resmi oleh pemerintah Iran," tutur Muzani.
Lebih lanjut, Muzani mengungkapkan, rombongan delegasi Indonesia tidak menginap di Iran. Rencananya, mereka tiba pagi hari waktu setempat. Rombongan akan berziarah dan bertemu Menteri Luar Negeri dan Ketua Parlemen Iran. Setelahnya langsung kembali ke Tanah Air.
"Tidak menginap. Sampai pagi, dan ke pemakaman, siang ziarah, terus setelah itu berbicara dengan Menteri Luar Negeri dan Ketua Parlemen Iran. Habis itu kembali langsung ke Jakarta," katanya.
Prosesi pemakaman jenazah Ayatollah Ali Khamenei, di kampung halamannya, di Mashhad, wilayah timur laut negara tersebut, berlangsung pada Kamis (9/7/2026) malam waktu setempat atau Jumat pagi WIB.
Pemakaman jenazah Ali Khamenei, seperti dilansir AFP, Kamis (9/7/2026), mengakhiri rangkaian seremoni besar-besaran selama beberapa hari terakhir, yang digelar di Teheran dan kota-kota suci Iran lainnya, juga di kota-kota suci Syiah di Irak. Jutaan pelayat menghadiri seremoni pemakaman Khamenei yang juga dihadiri oleh delegasi asing dari puluhan negara, termasuk dari Indonesia.
Yang memprihatinkan, saat rangkaian seremoni memasuki hari terakhir, pada Kamis (9/7), Iran kembali terlibat aksi saling serang dengan Amerika Serikat (AS) yang disokong Israel. Pemakaman Khamenei yang digelar empat bulan setelah kematiannya itu diwarnai serangan AS di tengah runtuhnya gencatan senjata yang rapuh. Iran pun membalas serangan sengit AS. Bahkan, Iran bersumpah akan melakukan serangan besar ke target AS dan Israel di Teluk. (jok)
