Jam'iyyah
PBNU Perkuat Kerja Sama Internasional, Kini Gandeng Dubes Yaman Sinergi Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
Wasekjen PBNU, Ahmad Ginanjar Sya'ban, mengatakan selain kerja sama pendidikan dan kebudayaan, Pemerintah Yaman berharap NU bisa terus menjalin komunikasi dalam mendukung pemerintah yang sah di Yaman.
JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus berupaya memperkuat kerja sama Internasional dalam membangun misi membangun peradaban. Terbaru, PBNU kedatangan Dubes Yaman, Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh, untuk membahas penguatan sinergi di bidang Pendidikan dan kebudayaan.
Pertemuan tersebut berlangsung di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2026). Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyambut langsung kedatangan Dubes Yaman beserta rombongan.
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Ahmad Ginanjar Sya'ban, mengatakan selain kerja sama pendidikan dan kebudayaan, Pemerintah Republik Yaman juga berharap NU dapat terus menjalin komunikasi dengan Pemerintah Republik Indonesia dalam mendukung pemerintah yang sah di Yaman.
"Sangat berharap NU bisa memainkan perannya untuk meningkatkan atensi kepada Pemerintah Indonesia agar terus mendukung pemerintah yang sah di Yaman," ujarnya.
Menurut Ginanjar, kedua pihak juga membahas sejarah panjang hubungan antara Yaman dan Indonesia yang dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat hubungan kedua negara pada masa mendatang.
"Itu menjadi modal besar untuk mengembangkan hubungan diplomatik antara Yaman dan Indonesia," katanya.
Tak hanya itu, disebutkan oleh Ginanjar bahwa Dubes Yaman juga mengapresiasi kiprah NU di bidang keagamaan, sosial, dan pendidikan.
"Terutama NU yang selama ini dikenal sebagai organisasi keagamaan yang ber-manhaj wasathiyyah, toleran, moderat, serta sangat mendukung dialog antarmazhab, dialog antarperadaban, dan perdamaian kemanusiaan yang saat ini sangat dibutuhkan oleh Yaman," pungkasnya.
Sebagai informasi, dalam pertemuan tersebut Gus Yahya turut didampingi oleh Katib Syuriyah PBNU KH Nurul Yaqin Ishaq dan Ketua PBNU Ahmad Suaedy. (nuo/nhr)