Suara Nahdliyin

Warta / Internasional

Pagi Ini Gus Yahya, Syafiq Mughni, Ahmad Muzani Dampingi Menlu Sugiono Hadiri Pemakaman Ali Khamenei di Iran

Gus Yahya dinilai aktif ikut menggalang upaya damai meredakan konflik di kawasan Teluk. Khususnya terkait Perang Iran melawan AS-Israel.

10 Juli 2026 06.37
Pagi Ini Gus Yahya, Syafiq Mughni, Ahmad Muzani Dampingi Menlu Sugiono Hadiri Pemakaman Ali Khamenei di  Iran
Gus Yahya, Menlu Sugiono, Ketua MPR Ahmad Muzani, dan Syafiq Mughni sesaat sebelum bertolak ke Iran Kamis malam. (Foto: Instagram Ahmad Muzani)

TEHERAN (SuaraNahdliyin.id) - Delegasi Indonesia ke Iran ternyata terdiri atas Menteri Luar Negeri Sugiono didampingi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Ketua  PP Muhammadiyah Syafiq Mughni, dan Ketua MPR Ahmad Muzani. Mereka sudah bertolak ke Iran Kamis malam dan tiba di tujuan Kota Mashhad Jumat pagi ini WIB untuk menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di kompleks pemakaman suci Imam Reza,  daerah kelahiran almarhum, Kota Mashhad.

"Malam ini (Kamis malam, Red.) saya bersama Menteri Luar Negeri Sugiono, Ketua Umum PBNU Gus Yahya, serta Ketua PP Muhammadiyah Prof Syafiq Mughni bertolak ke Masyhad, Iran, dalam rangka memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar perjalan kami diberikan kelancaran serta keselamatan dari Allah SWT sampai kami tiba kembali ke Tanar Air," tulis Ahmad Muzani sesaat hendak terbang ke Iran, seperti dilihat di akun Instagramnya, Jumat (10/7/2026) pagi ini.

Dalam postingannya Ahmad Muzani menyertakan foto dirinya beserta tiga anggota delegasi lain yakni Menlu Sugiono, Gus Yahya, dan Syafiq Mughni. Dalam berita sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Yvonne Mewengkang memberi info, bahwa dari PP Muhammadiyah yang ikut ke Iran adalah Ketum Haedar Nashir, tapi sesuai keterangan Ahmad Muzani ternyata Syafiq Mughni. Mereka secara khusus diminta oleh Presiden Prabowo Subianto, secara resmi mewakili Bangsa Indonesia untuk memberikan penghormatan kepada almarhum Ayatollah Ali Khamenei.

BACA JUGA:

  1. Sejumlah Ulama Ikut Delegasi RI Hadiri Pemakaman Ali Khamenei, Gus Yahya Diminta Langsung Oleh Presiden Prabowo
  2. Gus Yahya: Kepemimpinan NU ke Depan Kombinasi Kuasai Isu Global dan Penguatan Tradisi Spiritual Pesantren
  3. Catur Diplomasi Gus Yahya yang Belum Tertandingi

Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman jenazah mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Kota Mashhad.  Sebelum dimakamkan di sana pada Kamis 9 Juli 2026 malam waktu setempat atau Jumat pagi ini, rangkaian prosesi penghormatan juga telah diselenggarakan di Teheran, Qom, serta dilakukan arak-arakan di kota suci Najaf dan Karbala, Irak.

Ali Khamenei terbunuh akibat serangan Amerika Serikat dan Israel yang memicu perang berkepanjangan hingga sekarang dan membuat dunia dicekam krisis parah di berbagai bidang, khususnya ekonomi global, lantaran Iran membalas bukan hanya secara militer tapi juga dengan menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur utama lalu lintas laut kapal tanker membawa minyak dari dan ke berbagai negara, khususnya negara di Asia. Perang Iran melawan AS dan Israel, tak lepas dari penjajahan Israel di Gaza Palestina dan Lebanon.

Terkait hal itu Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dinilai aktif ikut menggalang upaya damai meredakan konflik di kawasan Teluk. Banyak kalangan menilai tugas ikut meredakan konflik ini sebenarnya bisa dilakukan Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang mewakili Pemerintahan Presiden Prabowo, khususnya dengan menggalang dukungan tokoh lintas agama dari berbagai negara, guna menekan pihak yang berperang agar segera mengakhiri konflik di Timur Tengah. Namun, tugas mulia menggalang perdamaian dunia itu lebih banyak dilakukan oleh Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU.

Gus Yahya juga mendukung komitmen yang kuat dari Presiden Prabowo Subianto untuk berkontribusi dalam penyelesaian konflik di Timur Tengah.  Untuk ikut memberikan solusi atas perang di Timur Tengah itu Presiden Prabowo meminta masukan dari para kiai dan tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (5/3/2026) malam. Menurut Gus Yahya, Indonesia memiliki posisi yang cukup strategis untuk membuka ruang komunikasi di antara pihak-pihak yang terlibat.

"Yang jelas bahwa Presiden menegaskan komitmennya, Beliau akan melakukan apa saja untuk ikut berkontribusi membantu ke arah perdamaian, penyelesaian masalah dan lebih-lebih karena penyelesaian masalah, terutama konflik di Timur Tengah, yang juga terkait kepentingan-kepentingan domestik kita sendiri," ujar Gus Yahya.

Gus Yahya juga menilai Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran sebagai mediator komunikasi karena diterima oleh berbagai pihak yang terlibat dalam konflik.

"Alhamdulillah Indonesia dalam hal ini Presiden Prabowo Subianto adalah aktor yang diterima oleh semua pihak sehingga punya peluang untuk bisa menjadi semacam mediator komunikasi di antara pihak-pihak yang terlibat," katanya.

Seperti diberitakan SuaraNahdliyin.id sebelumnya, sebagài Ketua Umum PBNU, Gus Yahya juga aktif menggalang jalan damai atas konflik AS-Israel dengan Iran. Gus Yahya pun sudah menemui Duta Besar Amerika Serikat (AS), Peter Mark Haymond, di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/4/2026). Sebelumnya  Gus Yahya mengunjungi Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammed Boroujerdi, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (27/3/2026). Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan dukungan moral terhadap bangsa Iran yang tengah menghadapi konflik perang dengan Israel dan Amerika Serikat. Dalam pertemuan itu, Gus Yahya menyampaikan doa dan harapannya agar konflik segera berakhir. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua PBNU Rumadi Ahmad usai pertemuan.

“Gus Yahya menyampaikan bahwa hati dan pikiran beliau adalah untuk mendoakan bangsa Iran. Tentu, Beliau ingin perang ini segera berakhir,” ujar Rumadi.

Ia menjelaskan, dampak perang tidak hanya dirasakan oleh Iran, tetapi juga mulai meluas ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, Gus Yahya mendorong adanya komunikasi yang lebih intensif antara pemerintah Indonesia dan Iran guna memitigasi dampak konflik.

“Terutama untuk memitigasi dampak-dampak yang ditimbulkan dari perang yang masih berlangsung hingga saat ini. Dampak serangan Israel-Amerika kepada Iran sudah meluas,” lanjutnya.

 Gus Yahya juga menegaskan bahwa perang tidak hanya menimbulkan penderitaan, tetapi dalam jangka panjang dapat mengancam ketertiban dunia dan hak kemerdekaan setiap bangsa. Karena itu, Nahdlatul Ulama akan terus mengampanyekan perdamaian dan menyerukan penghentian perang. Selain itu, ia menekankan pentingnya pemulihan ketertiban dunia serta komitmen NU untuk menggalang solidaritas dalam membantu meringankan beban rakyat Iran yang terdampak konflik. 

Sementara itu, Dubes Iran Mohammed Boroujerdi menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan moral serta solidaritas yang diberikan oleh NU.  “Kunjungan ini sangat berarti bagi bangsa Iran,” ujarnya. 

Seperti diketahui AS dan Israel meluncurkan serangan bersama pada 28 Februari 2026 lalu. Imbas operasi itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur. Khamenei dilaporkan gugur pada serangan pada Sabtu itu. Iran langsung membalas serangan AS dengan skala lebih besar dari sebelumnya usai gugurnya Khamenei. Mereka menargetkan Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Perang masih berkecamuk bahkan di saat prosesi pemakaman Ali Khamenei berlangsung. (jok)