Suara Nahdliyin

Warta / Nasional

NU Care-LAZISNU PBNU Sembelih Hewan Kurban di RPH, Ini Alasannya

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Idul Adha tahun ini menjadi momen bagi NU Care-LAZISNU PBNU untuk melakukan proses pemotongan hewan kurban yang ramah lingkungan. NU Care-LAZISNU pun memilih melakukan pemotongan hewan kurban di Rumah Potong Hewan (RPH) guna memas

30 Mei 2026 17.30
pemotongan-hewan-kurban-newsmei2026_1780064826
JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Idul Adha tahun ini menjadi momen bagi NU Care-LAZISNU PBNU untuk melakukan proses pemotongan hewan kurban yang ramah lingkungan. NU Care-LAZISNU pun memilih melakukan pemotongan hewan kurban di Rumah Potong Hewan (RPH) guna memas

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Idul Adha tahun ini menjadi momen bagi NU Care-LAZISNU PBNU untuk melakukan proses pemotongan hewan kurban yang ramah lingkungan. NU Care-LAZISNU pun

memilih melakukan pemotongan hewan kurban di Rumah Potong Hewan (RPH) guna memastikan proses penyembelihan berjalan sesuai syariat Islam, menjaga kesehatan hewan, hingga memastikan pengelolaan limbah dilakukan secara aman dan higienis.

Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU, Riri Khariroh, menjelaskan, bahwa pemotongan hewan kurban di RPH memberikan jaminan proses penyembelihan dilakukan secara profesional dan sesuai ketentuan agama Islam.

“Tadi saya menyaksikan penyembelian hewan kurban, sebelum disembeli itu sudah dicek ulang oleh dokter, kemudian sebelum disembelih juga nanti julehanya atau juru sembeli halalnya itu di sini semua sudah tersertifikasi, sehingga mereka benar-benar memiliki kompetensi misalnya untuk menyembelih hewan kurban sesuai dengan syariat,” katanya di RPH Darma Jaya, Cakung, Jakarta Timur, Kamis (28/5/2026).

Dia mengatakan bahwa setelah proses pemotongan dilakukan, pengawasan terhadap organ dalam hewan juga dilakukan secara ketat untuk memastikan daging aman dikonsumsi masyarakat.

“Setelah pemotongan, pengawas, dokter hewan standby disini untuk memastikan terutama dicek apakah misalnya jeroan-jeroan itu mengandung sesuatu yang berbahaya atau tidak. Jadi kalau sudah dipastikan bahwa itu semua aman, sehat, clean, maka daging kemudian kita proses, kemudian dipotong dan dimasukkan ke dalam besek yang nanti akan didistribusikan kepada masyarakat,” jelasnya.

Riri juga menyampaikan bahwa selama proses penyembelihan dan pemotongan hewan, tim NU Care-LAZISNU menjaga higienitas daging kurban dengan menggunakan sarung tangan, masker, apron, hingga pelindung kepala.

“Kita lihat ya, di sini, tim kami juga menjaga kehigienisan daging kurban,” ucapnya.

Sementara itu, Pengawas RPH Darma Jaya Deni Hasudungan mengatakan bahwa aspek higienis dan sanitasi menjadi perhatian utama dalam proses pemotongan hewan kurban di RPH.

“Lebih higiene sanitasinya terjaga karena setelah limbah ini keluar, kita tidak langsung masuk ke saluran air, tapi diolah oleh IPAL. Lalu, untuk pemotongannya juga kami sudah memiliki juru sembelih halal yang sudah tersertifikasi halal,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan melalui tahapan antemortem dan postmortem. Pemeriksaan antemortem dilakukan untuk memastikan sapi dalam kondisi sehat dan tidak cacat sebelum disembelih.

Sementara pemeriksaan postmortem dilakukan terhadap organ dalam seperti hati, paru, jantung, limpa, dan ginjal guna memastikan tidak ada penyakit yang dapat membahayakan konsumen.

Deni menyampaikan bahwa hewan kurban telah masuk kandang sejak H-2 atau H-1 sebelum disembelih dan proses pemotongan berlangsung hingga hari tasyrik.

Selain itu, pengelolaan limbah juga dilakukan melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Limbah padat diolah menjadi pupuk, sedangkan limbah cair diproses menggunakan mikroorganisme.

“Limbahnya sendiri nanti ada pengolahan limbah di tempat IPAL. biasanya kalau untuk limbah yang padat itu bisa dijadikan pupuk. Kalau limbah cair nanti itu akan diolah oleh mikroorganisme,” tutur Deni.

Dokter Hewan RPH Darma Jaya Amar Naufal mengatakan bahwa tim dokter hewan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap hewan kurban sejak pertama kali tiba di kandang karantina. Ia menambahkan, pemeriksaan dilakukan terhadap kondisi fisik, usia hewan, hingga kemungkinan adanya penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD).

“Karena kalau di sapi sendiri itu ada penyakit yang menular seperti PMK dan LSD. Nah, itu kami tidak menyarankan atau tidak memprioritaskan untuk hewan-hewan tersebut dipotong,” katanya.

(nuo)