Jam'iyyah / Muktamar NU
Muktamar NU di Tambakberas Bagian dari Panggilan Muassis NU
Ada makna yang tersembunyi dalam penetapan lokasi Muktamar ke-35 NU. Selain mengadung makna historis dan spiritual, pemilihan Ponpes Tambakberas Jombang merupakan bagian dari panggilan Muassis NU.
TUBAN (SuaraNahdliyin.id) – Pemilihan Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur sebagai lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama 2026, mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Salah satunya disampaikan salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban, KH Ma’shum Faqih.
Pria yang akrab disapa Gus Ma’shum ini pun mengaku bersyukur atas keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Salemba, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/7/2026) malam kemarin. Menurutnya, keputusan tersebut bukan sekadar penetapan lokasi penyelenggaraan muktamar, melainkan banyak mengandung makna yang tersembunyi.
Selain mengandung makna historis dan spiritual yang sangat mendalam, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU ini menilai, pemilihan Ponpes Tambakberas ini sebagai bagian dari panggilan dari para muassis NU.
"Saya memandang keputusan ini sebagai karomah Mbah Yai Abdul Wahab Chasbullah. Muktamar di Tambakberas seperti menjadi panggilan para muassis NU agar seluruh keluarga besar NU kembali kepada rumah perjuangan, kembali memperkuat ukhuwah, adab, dan khidmat," kata Gus Ma’shum, Rabu (8/7/2026).
Ia pun menjelaskan, bahwa KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan inisiator, pendiri, sekaligus penggerak lahirnya Nahdlatul Ulama melalui embrio Komite Hijaz pada 1926. Meski menjadi penggagas utama, Mbah Wahab tetap menunjukkan kerendahan hatinya dengan memohon restu kepada gurunya, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari, sebelum NU resmi didirikan.
Menurutnya, dipilihnya Tambakberas di tengah berbagai dinamika yang berkembang di tubuh organisasi ini, membawa pesan moral bahwa Nahdlatul Ulama tidak pernah lepas dari doa, keteladanan, dan warisan nilai para pendirinya.
"Saya meyakini para muassis tidak pernah meninggalkan NU. Seakan-akan Mbah Wahab sedang mengajak kita semua pulang, kembali meneguhkan persatuan dan mengutamakan kemaslahatan jam’iyah (perkumpulan) di atas kepentingan apapun," ujarnya.
Untuk itu, ia berharap Muktamar ke-35 NU yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 ini menjadi momentum meneguhkan kembali tata kelola organisasi sesuai khittah nahdliyah. Disamping itu, menempatkan tugas, fungsi dan pokok (Tupoksi) dari masing-masing jabatan.
"Para muassis telah memberikan teladan bahwa ulama adalah penuntun arah perjalanan jam’iyyah. Karena itu, saya berharap muktamar di Tambakberas menjadi momentum memperkuat kembali peran Mustasyar dan Syuriyah sebagai penjaga nilai, hikmah, dan arah organisasi. Sementara Tanfidziyah menjalankan amanah organisasi sesuai kewenangannya. Harmoni itulah yang menjadi kekuatan NU selama lebih dari satu abad," pungkasnya. ara/rai