Suara Nahdliyin

Tokoh

Meneladani Kiprah Mbah Wahab, Pendiri Ponpes Tambakberas Jombang

Penunjukan Ponpes Bahrul Ulum sebagai tuan rumah muktamar, tentu para muktamirin nantinya diharapkan mengenang dan meneladani perjuangan ikhlas Beliau untuk NU, bangsa, negara, dan agama.

8 Juli 2026 10.35
Meneladani Kiprah Mbah Wahab, Pendiri Ponpes Tambakberas Jombang
Lukisan KH Abdul Wahab Chasbulloh (Mbah Wahab) bersama gurunya, Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari dan sahabatnya KH Bisri Syansuri.

JOMBANG (SuaraNahdliyin.id) - Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, akhirnya ditetapkan oleh PBNU sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada 27-31 Agustus 2026 mendatang. Penunjukan Ponpes Bahrul Ulum tak lepas dari sejarah sang pendirinya, KH Abdul Wahab Chasbulloh (Mbah Wahab), yang sekaligus inisiator dan salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama, serta tokoh penggerak pejuang kemerdekaan Indonesia.

Penunjukan Ponpes Tambakberas tentu saja dinilai sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa Mbah Wahab. Mbah Wahab sebelumnya juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI pada November 2014.

Maka, dengan ditunjuknya Ponpes Bahrul Ulum sebagai tuan rumah muktamar, tentu para muktamirin nantinya diharapkan mengenang dan meneladani perjuangan ikhlas Beliau untuk NU, bangsa, negara, dan agama. Para santri dan kader NU perlu meneladani kiprah Mbah Wahab sepanjang hidupnya. Akhlaknya yang mulia hingga aktivitasnya, tidak hanya di bidang keagamaan saja tapi juga politisi ulung sekaligus pengusaha yang andal. Sebagai pemikir ulung, Beliau mendirikan berbagai organisasi pergerakan seperti Tashwirul Afkar dan Nahdhatul Tujjar, yang juga dikhtiarkan untuk perlawanan terhadap penjajah.

Mbah Wahab lahir di Jombang pada 31 Maret 1888 dan wafat pada 29 Desember 1971. Beliau dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Beberapa rekam jejak penting Beliau, antara lain tokoh pelopor tradisi intelektual yang suka berdiskusi, mendorong kebebasan berpikir dan berpendapat melalui lembaga kursus Tashwirul Afkar di Surabaya. Lalu Penggerak Ekonomi, mendirikan koperasi Nahdhatul Tujjar (Kebangkitan Pedagang) bersama KH Hasyim Asy'ari pada 1918. Pendiri NU: Menggagas Komite Hijaz dan mendirikan Nahdlatul Ulama bersama para kiai besar lainnya.

Saat ini Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tengah menggalakkan program unggulan koperasi sebagai soko guru perekenomian Indonesia. Salah satunya dengan mendirikan koperasi desa/kelurahan Merah Putih di hampir semua desa di tanah air.

Program yang sangat bagus untuk menggerakkan sektor ekonomi umat agar mandiri. Namun harus diingat, pioner gerakan koperasi di Indonesia adalah KH Wahab Chasbulloh yang telah menggelorakan gerakan koperasi jauh sebelum kemerdekaan RI.

Sejarawan Anhar Gonggong bahkan mengusulkan KH Wahab Chasbulloh layak mendapat gelar Bapak Koperasi Indonesia. Usulan itu disampaikan dalam Sarasehan dan Launching Buku KH Wahab Chasbullah yang digelar di Aula Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, karya sejarahwan NU Choirul Anam pada 3 September 2014 dalam rangka menyongsong Muktamar ke-33 NU pada tahun 2015.

Saat itu (almarhum) Cak Anam, panggilan akrab Choirul Anam, membeberkan, bahwa KH Wahab bersama KH Hasyim Asyari, pada 1918 sudah membentuk syirkah tijariah atau semacam kerjasama dagang bernama Nahdlatut Tujjar.

"Dalam waktu singkat, setelah berdirinya Nahdlatut Tujjar ini, tumbuh ratusan syirkah tijarian di berbagai kota, dengan nama Cooperatie Kaoem Moeslimin (CKM)," tegas Cak Anam, sejarawan NU dari Surabaya.

Adapun Syirkah tijariyah sistem yang digunakan, lanjutnya, adalah setiap anggota menginvestasikan modal 25- 50 golden. “Keuntunganya setiap tahun dibagi fifty fifty. 50 persen pertama dibagi atas besarnya modal setor, 50 persen kedua dikembalkan untuk memperbesar modal," beber mantan ketua GP Ansor Jawa Timur ini menambahkan.

Dikatakan Cak Anam, pendirian Nahdhatut Tujjar juga merupakan respon atas diskriminasi penjajah Belanda terhadap umat muslim dalam bidang ekonomi. Artinya, ketimpangan ekonomi sudah lama terjadi pada umat Islam, khususnya NU. Sehingga harus ada perlawanan cerdas dengan menggairahkan sektor ekonomi umat juga.

"Ada sebanyak 45 anggota dari kalangan pedagang awalnya. Dari sinilah terbentuk puluhan bahkan ratusan koperasi kaum muslim," tandasnya seraya mengatakan koperasi itu menjual kebutuhan pokok sehari hari beras, gula dan lain lain.

Sejarawan Anhar Gonggong lantas mendorong pihak NU untuk melakukan penelitian lebih mendalam lagi, guna memperkuat landasan ilmiah, bahwa KH Wahab sudah menggelorakan koperasi jauh sebelum kemerdekaan sekitar tahun 1920-an. Jadi sangat layak KH Wahab Chasbulloh mendapat gelar bapak koperasi--selain M. Hatta.

"Dokumen yang dipegang Pak Anam (Choirul Anam)otentik. Saya dorong NU melakukan penelitian dan kajian lebih jauh lagi. Kalau ada sumber yang secara ilmiah lebih punya otoritas ketimbang sebelumnya, bisa saja gelar bapak koperasi itu milik KH Wahab," tandas sejarawan berambut gondrong itu.

Cak Anam menyampaikan, bahwa paparan yang disampaiakan terkait kepeloporan KH Wahab dalam koperasi, hanyalah untuk mengungkapkan fakta sejarah. Yakni, selain mantan proklamator Mohammad Hatta (yang bergelar Bapak Koperasi), masih ada KH Wahab yang juga tak kalah giat menggelorakan koperasi di tanah air.

"Soal mengusulkan bapak koperasi itu ya tugas PBNU, yang jelas, fakta sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari pergerakan umat dan tokoh tokoh Islam seperti KH Wahab. Saya hanya meluruskan sejarah saja yang selama ini tidak terungkap karena ada kepentingan tertentu," ujarnya kala itu.

Kala itu KH Hasib Wahab Chasbulloh, putra KH Wahab Chasbulloh, menyambut baik dorongan Anhar Gonggong. Dia berjanji akan menyampaikan ke PWNU Jatim dan PBNU agar membentuk tim, guna menggali lebih dalam sejarah KH Wahab Chasbulloh, khususnya kepeloporannya di bidang koperasi.

“Sudah pasti saya dukung gagasan untuk mengkaji dan menggali sejarah KH Wahab. Lebih-lebih ada dorongan dari sejarawan yang kredibilitasnya tak diragukan lagi,” kata Gus Hasib, panggilan KH Hasib Chasbulloh.

Selain mengedepankan narasumber Anhar Gonggong dan Chiorul Anam, acara sarasehan juga menampilkan Abdul Mun’im DZ, yang kala itu menjabat Wasekjen PBNU, membahas buku ‘KH Wahab Chasbullah : Kaidah Berpolitik dan Bernegara’ di mana yang bersangkutan bertindak sebagai editor.

Begitulah, kiprah Mbah Wahab yang sangat brilian. Banyak buku bisa dibaca untuk meneladani kiprah Beliau untuk NU, bangsa, negara, dan agama. (jok)