Aswaja
Khutbah Jumat: Membangun Kedekatan Anak dan Orang Tua di Era Digital
Di tengah arus digitalisasi yang semakin pesat, seharusnya ikatan antara orang tua dan anak justru semakin diperkuat. Namun nyatanya, di era serba digital kerap ditemukan hubungan yang kurang harmonis antara orang tua dan anak, baik karena orang tuanya yang te
Di tengah arus digitalisasi yang semakin pesat, seharusnya ikatan antara orang tua dan anak justru semakin diperkuat. Namun nyatanya, di era serba digital kerap ditemukan hubungan yang kurang harmonis antara orang tua dan anak, baik karena orang tuanya yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, maupun sang anak yang terpengaruh oleh framing media sosial.
Naskah khutbah Jumat ini berjudul: “Khutbah Jumat: Membangun Kedekatan Anak dan Orang Tua di Era Digitalâ€. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah II
اَلْØÙŽÙ…ْد٠لÙلّٰه٠نَØÙ’مَدÙه٠وَنَسْتَعÙيْنÙه٠وَنَسْتَغْÙÙØ±ÙÙ‡ÙØŒ وَنَعÙÙˆÙ’Ø°Ù Ø¨ÙØ§Ù„لّٰه٠مÙنْ Ø´ÙØ±Ùوْر٠أَنْÙÙØ³Ùنَا ÙˆÙŽÙ…Ùنْ سَيÙّئَات٠أَعْمَالÙنَا، مَنْ يَهْدÙه٠اللّٰه٠Ùَلَا Ù…ÙØ¶ÙÙ„ÙŽÙ‘ Ù„ÙŽÙ‡ÙØŒ وَمَنْ ÙŠÙØ¶Ù’Ù„Ùلْ Ùَلَا هَادÙÙŠÙŽ Ù„ÙŽÙ‡Ù. أَشْهَد٠أَنْ لَا Ø¥Ùلٰهَ Ø¥Ùلَّا اللّٰه٠وَØÙ’دَه٠لَا شَرÙيْكَ Ù„ÙŽÙ‡ÙØŒ وَأَشْهَد٠أَنَّ Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙ‘Ø¯Ù‹Ø§ عَبْدÙه٠وَرَسÙوْلÙÙ‡ÙØŒ Ø£ÙŽØ±Ù’Ø³ÙŽÙ„ÙŽÙ‡Ù Ø§Ù„Ù„Ù‘Ù°Ù‡Ù Ø¨ÙØ§Ù„Ù’Ù‡ÙØ¯ÙŽÙ‰ وَدÙيْن٠الْØÙŽÙ‚ÙÙ‘ Ù„ÙÙŠÙØ¸Ù’Ù‡ÙØ±ÙŽÙ‡Ù عَلَى الدÙّيْن٠كÙÙ„Ùّه٠وَلَوْ كَرÙÙ‡ÙŽ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ´Ù’رÙÙƒÙوْنَ. صَلَّى اللّٰه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ وَعَلَى آلÙه٠وَصَØÙ’بÙه٠وَمَن٠اهْتَدَى بÙهَدْيÙه٠وَاتَّبَعَ سÙنَّتَه٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ يَوْم٠الدÙّيْنÙ. قَالَ تَعَالَى ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù‚ÙØ±Ù’آن٠الكَرÙيمÙ: يٰٓاَيÙّهَا الَّذÙيْنَ اٰمَنÙوا اتَّقÙوا اللّٰهَ ØÙŽÙ‚ÙŽÙ‘ تÙقٰىتÙهٖ وَلَا تَمÙوْتÙÙ†ÙŽÙ‘ اÙلَّا وَاَنْتÙمْ Ù…ÙّسْلÙÙ…Ùوْنَ. ÙˆÙŽÙ…Ùنْ اٰيٰتÙهٖٓ اَنْ خَلَقَ Ù„ÙŽÙƒÙمْ Ù…Ùّنْ اَنْÙÙØ³ÙÙƒÙمْ اَزْوَاجًا Ù„ÙّتَسْكÙÙ†Ùوْٓا اÙلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكÙمْ مَّوَدَّةً وَّرَØÙ’مَةً ۗاÙÙ†ÙŽÙ‘ ÙÙيْ ذٰلÙÙƒÙŽ لَاٰيٰت٠لÙّقَوْم٠يَّتَÙَكَّرÙوْنَ
Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji Syukur kita kepada Allah s ubhanahu wa ta’la, Tuhan semesta alam, yang terlah meberikan kepada kita semua berupan nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga kita semua dapat melangkahkan kaki menuju rumah Allah yang mulia ini untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat. Serta tak lupa shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada panutan kita, Nabiyuna Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman nanti.
Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan juga kepada para jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala di manapun dan kapanpun. Taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menghadapi segala tantangan zaman, termasuk tantangan dalam mendidik keluarga di era digital saat ini.
Merujuk surat Ar-Rum ayat 21, seseorang yang sudah menikah diperintahkan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga agar tercipta ketentraman dan kasih sayang yang telah Allah anugerahkan kepada mereka.
ÙˆÙŽÙ…Ùنْ اٰيٰتÙهٖٓ اَنْ خَلَقَ Ù„ÙŽÙƒÙمْ Ù…Ùّنْ اَنْÙÙØ³ÙÙƒÙمْ اَزْوَاجًا Ù„ÙّتَسْكÙÙ†Ùوْٓا اÙلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكÙمْ مَّوَدَّةً وَّرَØÙ’مَةً ۗاÙÙ†ÙŽÙ‘ ÙÙيْ ذٰلÙÙƒÙŽ لَاٰيٰت٠لÙّقَوْم٠يَّتَÙَكَّرÙوْنَ
Artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.†(QS Ar-Rum : 21).
Hadiri Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah
Saat ini kita hidup di mana teknologi seolah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Gawai atau smartphone telah menjadi bagian dari tangan kita. Namun, dibalik kemudahan akses yang diwarkan, ada ancaman sunyi yang sendang mengintai rumah-rumah kita, yaitu renggangnya hubungan antara orang tua dan anak.
Itulah fenomena zaman sekarang, seringkali kita melihat sebuah keluarga duduk bersama di meja makan, namun tak ada satu kata pun yang terucap. Ayahnya sibuk dengan urusan kantor di HP-nya, Ibu sibuk dengan media sosialnya, dan begitu juga sang anak yang asyik dengan game atau dunianya sendiri. Secara fisik memang mereka dekat, namun secara hati mereka sangat jauh.
Fenomena ini sungguh sangat memprihatinkan, yang awalnya tujuan perkembangan teknologi adalah untuk membantu kehidupan manusia, namun kebanyakan manusia terlalu lalai dalam memanfaatkannya. Sehingga peristiwa ini sangat bertentangan dengan firman Allah:
يٰٓاَيÙّهَا الَّذÙيْنَ اٰمَنÙوْا Ù‚Ùوْٓا اَنْÙÙØ³ÙŽÙƒÙمْ وَاَهْلÙيْكÙمْ نَارًا وَّقÙوْدÙهَا النَّاس٠وَالْØÙجَارَة٠عَلَيْهَا مَلٰۤىÙٕكَةٌ غÙلَاظٌ Ø´ÙØ¯ÙŽØ§Ø¯ÙŒ لَّا يَعْصÙوْنَ اللّٰهَ Ù…ÙŽØ¢ اَمَرَهÙمْ ÙˆÙŽÙŠÙŽÙْعَلÙوْنَ مَا ÙŠÙØ¤Ù’مَرÙوْنَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS At-Tahrim:Â 6 ).
Menjaga keluarga dari api neraka di zaman sekarang bukan hanya menjauhkan mereka dari kemaksiatan fisik, melainkan juga menjaga moral mereka untuk lebih bijak lagi dalam memanfaatkan kemajuan digitalisasi ini, serta menjaga mereka dari bahaya digital yang bisa merusak akhlak, memutus silaturahim, dan menjauhkan anak dari kasih sayang orang tua.
Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah
Perlu diketahui bahwa orang tua adalah pemimpin dalam rumah tangga dan anak adalah amanah dari Allah ta’ala bagi kedua orang tua. Dari permasalah ini, seharusnya kita mulai menyadari tentang bahayanya perkembangan digitalisasi bilamana tidak digunakan dengan arif dan bijak.
Menyikapi fenomena ini, terdapat dua solusi untuk menyelesaikannya.
Pertama , hal yang seharusnya dilakukan orang tua adalah hadir secara utuh pada kehidupan anak. Karena peran orang tua adalah fondasi utama yang membentuk masa depan mereka. Urgensi kehadiran ini ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin di jilid III halaman 72.
Imam Al-Ghazali memandang anak sebagai amanah suci dengan hati yang menyerupai permata murni, tak bernoda dan siap menerima guratan apa pun. Ia siap menerima apa yang ditanam kepada dirinya serta cenderung mengikuti apa yang diarahkan kepadanya. Jika dibiasakan dengan kebaikan, ia akan tumbuh di atas kebaikan itu, namun sebaliknya jika dibiasa di abaikan dan dibiarkan maka ia akan tumbuh di atas keburukan. Na'udzubillah.
Dari sini kita memahami bahwa anak adalah amanah. Maka kehadiran orang tua bukan hanya secara fisik, tetapi juga dengan perhatian dan kasih sayang. Karena apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan tumbuh pada diri anak di masa depan.
Kedua , rumah menjadi madrasah kasih sayang . Jangan sampai anak-anak kita merasa bahwa rumah adalah tempat yang dingin, tempat yang hanya berisi rentetan instruksi, larangan, teguran, dan amarah. Jika seorang anak tidak mendapatkan kehangatan di rumahnya sendiri, maka ia akan menjadi mangsa yang mudah bagi dunia maya. Mereka akan mencari pelarian dan penerimaan di media sosial atau komunitas online yang belum tentu aman bagi iman dan akhlak mereka.
Mari kita ambil pelajaran dari pola komunikasi Luqman Al-Hakim yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an. Beliau memanggil anaknya dengan sebutan  'Ya Bunayya' sebuah panggilan yang mengandung tetesan kasih sayang, kelembutan, dan perlindungan. Beliau tidak mendikte dengan kekuasaan sebagai ayah, melainkan merangkul dengan cinta sebagai sahabat. Ingatlah, kedekatan emosional yang terbangun antara orang tua dan anak adalah banteng terkuat yang melebihi aplikasi keamanan digital manapun.
Hadiri Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Demikianlah khutbah singkat tentang pentingnya menjaga keharmonisan dalam keluarga di tengah arus digitalisasi. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kedekatan dengan keluarga. Mari kita jadikan momen setelah ini untuk bermuhasabah, memohon ampun atas kelalaian kita sebagai orang tua maupun sebagai anak. Semoga Allah senantiasa menjaga keutuhan hati kita di tengah badai zaman ini.
Marilah kita sadari bahwa setiap detik perhatian yang kita berikan kepada anak adalah investasi akhirat. Jangan sampai teknologi yang seharusnya memudahkan urusan justru menjadi dinding pemisah antara kita dan buah hati kita.
بَارَكَ الله٠لÙÙŠ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙƒÙمْ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ±Ù’آن٠الْعَظÙÙŠÙ’Ù…ÙØŒ ÙˆÙŽÙ†ÙŽÙَعَنÙÙŠ ÙˆÙŽØ¥ÙيَّاكÙمْ بÙمَا ÙÙيْه٠مÙÙ†ÙŽ الآيَات٠وَالذÙّكْر٠الْØÙŽÙƒÙيْمÙ. Ø£ÙŽÙ‚Ùوْل٠قَوْلÙÙŠ هَذَا وَأَسْتَغْÙÙØ±Ù اللهَ الْعَظÙيْمَ Ù„ÙÙŠ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙƒÙمْ ÙَاسْتَغْÙÙØ±ÙÙˆÙ’Ù‡ÙØŒ Ø¥Ùنَّه٠هÙÙˆÙŽ الْغَÙÙوْر٠الرَّØÙيْمÙ
Khutbah II
الْØÙŽÙ…ْد٠لÙلّٰه٠ØÙŽÙ…ْدًا ÙƒÙŽØ«Ùيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَد٠أَنْ لَا Ø¥Ùلٰهَ Ø¥Ùلَّا اللّٰه٠وَØÙ’دَه٠لَا شَرÙيْكَ Ù„ÙŽÙ‡Ù Ø¥ÙØ±Ù’غَامًا Ù„Ùمَنْ جَØÙŽØ¯ÙŽ Ø¨ÙÙ‡Ù ÙˆÙŽÙƒÙŽÙَرَ. وَأَشْهَد٠أَنَّ Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙ‘Ø¯Ù‹Ø§ عَبْدÙه٠وَرَسÙوْلÙه٠سَيÙّد٠الْخَلَائÙق٠وَالْبَشَرÙ. اَللّٰهÙÙ…ÙŽÙ‘ صَلÙÙ‘ وَسَلÙّمْ وَبَارÙكْ عَلَى سَيÙّدÙنَا Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙ‘Ø¯Ù ÙˆÙŽØ¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ آلÙه٠وَأَصْØÙŽØ§Ø¨Ùه٠أَجْمَعÙيْنَ
أَمَّا Ø¨ÙŽØ¹Ù’Ø¯ÙØŒ Ùَيَا آيÙّهَا الØÙŽØ§Ø¶ÙرÙوْنَ، Ø£ÙوْصÙيْكÙمْ ÙˆÙŽÙ†ÙŽÙْسÙيْ Ø¨ÙØªÙŽÙ‚ْوَى اللّٰه٠وَطَاعَتÙه٠لَعَلَّكÙمْ تÙÙÙ’Ù„ÙØÙوْنَ. يَا Ø£ÙŽÙŠÙّهَا الَّذÙينَ آمَنÙوا اتَّقÙوا اللَّهَ ØÙŽÙ‚ÙŽÙ‘ تÙقَاتÙه٠وَلَا تَمÙوتÙÙ†ÙŽÙ‘ Ø¥Ùلَّا وَأَنْتÙمْ Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùونَ. Ùَقَدْ قَالَ اللّٰه٠تَعَالَى ÙÙÙŠ ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ùه٠الْكَرÙيْم٠أَعÙÙˆÙ’Ø°Ù Ø¨ÙØ§Ù„لّٰه٠مÙÙ†ÙŽ الشَّيْطَان٠الرَّجÙÙŠÙ’Ù…ÙØŒ Ø¨ÙØ³Ù’م٠اللّٰه٠الرَّØÙ’مَن٠الرَّØÙيْمÙ: يٰٓاَيÙّهَا الَّذÙيْنَ اٰمَنÙوْا Ù‚Ùوْٓا اَنْÙÙØ³ÙŽÙƒÙمْ وَاَهْلÙيْكÙمْ نَارًا وَّقÙوْدÙهَا النَّاس٠وَالْØÙجَارَة٠عَلَيْهَا مَلٰۤىÙٕكَةٌ غÙلَاظٌ Ø´ÙØ¯ÙŽØ§Ø¯ÙŒ لَّا يَعْصÙوْنَ اللّٰهَ Ù…ÙŽØ¢ اَمَرَهÙمْ ÙˆÙŽÙŠÙŽÙْعَلÙوْنَ مَا ÙŠÙØ¤Ù’مَرÙوْنَ
وَاعْلَمÙوْا Ø£ÙŽÙ†ÙŽÙ‘ اللّٰهَ أَمَرَكÙمْ Ø¨ÙØ£ÙŽÙ…ْر٠عَظÙÙŠÙ’Ù…ÙØŒ أَمَرَكÙمْ Ø¨ÙØ§Ù„صَّلَاة٠وَالسَّلَام٠عَلَى نَبÙÙŠÙّه٠الْكَرÙÙŠÙ’Ù…ÙØŒ Ùَقَالَ جَلَّ جَلَالÙه٠إÙÙ†ÙŽÙ‘ اللّٰهَ وَمَلَائÙÙƒÙŽØªÙŽÙ‡Ù ÙŠÙØµÙŽÙ„Ùّونَ عَلَى النَّبÙÙŠÙÙ‘ يَا Ø£ÙŽÙŠÙّهَا الَّذÙينَ آمَنÙوا صَلÙّوا عَلَيْه٠وَسَلÙّمÙوا تَسْلÙيماً. اَللَّهÙÙ…ÙŽÙ‘ صَلÙÙ‘ عَلٰى سَيÙّدÙنَا Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙ‘Ø¯Ù ÙˆÙŽØ¹ÙŽÙ„Ù°Ù‰ اٰل٠سَيÙّدÙنَا Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙ‘Ø¯Ù
اَللّٰهÙÙ…ÙŽÙ‘ اغْÙÙØ±Ù’ Ù„ÙÙ„Ù’Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†Ùيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†ÙŽØ§ØªÙØŒ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…ÙŽØ§ØªÙØŒ اَلْأَØÙ’يَاء٠مÙنْهÙمْ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø£ÙŽÙ…Ù’ÙˆÙŽØ§ØªÙØŒ Ø¥Ùنَّكَ سَمÙيْعٌ قَرÙيْبٌ Ù…ÙØ¬ÙÙŠÙ’Ø¨Ù Ø§Ù„Ø¯ÙŽÙ‘Ø¹ÙŽÙˆÙŽØ§ØªÙØŒ ÙˆÙŽ يَا قَاضÙÙŠÙŽ الْØÙŽØ§Ø¬ÙŽØ§ØªÙ. للهÙÙ…ÙŽÙ‘ Ø£ÙŽØ¹ÙØ²ÙŽÙ‘ Ø§Ù’Ù„Ø¥ÙØ³Ù’لاَمَ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ وَأَذÙÙ„ÙŽÙ‘ الشÙّرْكَ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ´Ù’رÙÙƒÙيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù†Ù’ØµÙØ±Ù’ Ø¹ÙØ¨ÙŽØ§Ø¯ÙŽÙƒÙŽ Ø§Ù’Ù„Ù…ÙÙˆÙŽØÙّدÙيَّةَ ÙˆÙŽØ§Ù†Ù’ØµÙØ±Ù’ مَنْ نَصَرَ الدÙّيْنَ وَاخْذÙلْ مَنْ خَذَلَ Ø§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ ÙˆÙŽ دَمÙّرْ أَعْدَاءَ الدÙّيْن٠وَاعْل٠كَلÙمَاتÙÙƒÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ يَوْمَ الدÙّيْنÙ. اَللّٰهÙÙ…ÙŽÙ‘ بَارÙكْ ÙÙيْ أَوْلَادÙنَا، وَارْزÙقْنَا Ø¨ÙØ±ÙŽÙ‘Ù‡Ùمْ، وَاجْعَلْهÙمْ Ù…Ùمَّنْ يَسْمَعÙوْنَ الْقَوْلَ ÙÙŽÙŠÙŽØªÙŽÙ‘Ø¨ÙØ¹Ùوْنَ Ø£ÙŽØÙ’سَنَهÙ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا Ù…Ùنْ أَزْوَاجÙنَا ÙˆÙŽØ°ÙØ±ÙّيَّاتÙنَا Ù‚ÙØ±ÙŽÙ‘ةَ أَعْيÙن٠وَاجْعَلْنَا Ù„ÙÙ„Ù’Ù…ÙØªÙŽÙ‘Ù‚Ùينَ Ø¥Ùمَامًا. اللهÙÙ…ÙŽÙ‘ ادْÙَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزÙÙ„ÙŽ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØÙŽÙ†ÙŽ وَسÙوْءَ اْلÙÙØªÙ’Ù†ÙŽØ©Ù ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØÙŽÙ†ÙŽ مَا ظَهَرَ Ù…Ùنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدÙنَا اÙنْدÙونÙيْسÙيَّا خآصَّةً ÙˆÙŽØ³ÙŽØ§Ø¦ÙØ±Ù اْلبÙÙ„Ù’Ø¯ÙŽØ§Ù†Ù Ø§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمÙيْنَ. رَبَّنَا آتÙناَ ÙÙÙ‰ الدÙّنْيَا ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽÙÙÙ‰ Ø§Ù’Ù„Ø¢Ø®ÙØ±ÙŽØ©Ù ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽÙ‚Ùنَا عَذَابَ النَّارÙ
Ø¥ÙÙ†ÙŽÙ‘ اللهَ ÙŠÙŽØ£Ù’Ù…ÙØ±Ùنَا Ø¨ÙØ§Ù’Ù„Ø¹ÙŽØ¯Ù’Ù„Ù ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ø¥ÙØÙ’Ø³ÙŽØ§Ù†Ù ÙˆÙŽØ¥Ùيْتآء٠ذÙÙŠ Ø§Ù’Ù„Ù‚ÙØ±Ù’بىَ وَيَنْهَى عَن٠اْلÙÙŽØÙ’شآء٠وَاْلمÙنْكَر٠وَاْلبَغْي ÙŠÙŽØ¹ÙØ¸ÙÙƒÙمْ لَعَلَّكÙمْ تَذَكَّرÙوْنَ ÙˆÙŽØ§Ø°Ù’ÙƒÙØ±Ùوا اللهَ اْلعَظÙيْمَ ÙŠÙŽØ°Ù’ÙƒÙØ±Ù’ÙƒÙمْ ÙˆÙŽØ§Ø´Ù’ÙƒÙØ±Ùوْه٠عَلىَ Ù†ÙØ¹ÙŽÙ…ÙÙ‡Ù ÙŠÙŽØ²ÙØ¯Ù’ÙƒÙمْ وَلَذÙكْر٠الله٠أَكْبَرْ
Ustadz Ahmad Ivan Abid Nugroho , Peserta Kelas Menulis NU Online
Source link