Suara Nahdliyin

Religi / Haji & Umrah

Kebijakan Wamenhaj Daniel Disebut Biang Kerok Kekacauan Haji 2026, KBIH Angkat Bicara

Pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci Makkah tidak semulus yang dibayangkan. Sejumlah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) justru melontarkan kritik tajam dalam pelaksanaan haji tahun ini.

3 Juni 2026 19.43
Kebijakan Wamenhaj Daniel Disebut Biang Kerok Kekacauan Haji 2026, KBIH Angkat Bicara
H Abdul Adzim Mujib - salah satu perwakilan KBIH di Jawa Timur

MINA MAKKAH AL-MUKARROMAH - Penyelenggara ibadah haji pertama kali ditangani Kementerian Haji (Kemenhaj) di tahun 2026 mulai menuai kecaman keras dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Salah satunya diungkapkan pemilik salah satu KBIH di Jawa Timur, H Abdul Adzim Mujib yang akrab disapa Gus Adzim.

Ungkapan kekecewaan ini ditujukan kepada petugas ibadah haji di Tanah Suci Makkah, terutama terhadap Wakil Menteri Haji (Wamenhaj) Daniel Azhar Simanjuntak. Hal ini terekam dalam tulisan Gus Adzim yang tersebar di sejumlah WhatsApp Grup (WAG), tertanggal 29 Mei 2026.

Wamenhaj Daniel Azhar Simanjuntak dituding sebagai figur utama di balik karut-marutnya manajemen haji tahun ini. Kebijakan yang diambil secara sepihak tanpa pertimbangan matang, dinilai telah menyengsarakan jemaah dan menyudutkan mitra kerja di lapangan.

​Mewakili suara hati para pengurus KBIH, Gus Adzim, membongkar sejumlah kebobrokan fatal manajemen haji di bawah kendali Wamenhaj Daniel Azhar Simanjuntak:

Pertama, Tindakan Zalim dan Selalu Menyalahkan KBIH.

KBIH merasa dizalimi karena secara sepihak selalu diposisikan sebagai pihak yang bersalah atas berbagai kendala di lapangan. Padahal, Wamenhaj sama sekali belum pernah mengajak KBIH duduk Bersama, atau berdiskusi untuk merumuskan kebijakan.

Kedua, ​Petugas Lapangan yang Tidak Kompeten.

Penempatan petugas haji di lapangan menuai rapor merah. Banyak petugas yang direkrut tidak memahami Maqashid Syariah dalam konteks haji, bahkan aspek ibadah (ubudiyah) mereka sendiri dinilai berantakan, sehingga gagal membimbing jemaah dengan benar.

Ketiga, ​Tragedi Tenda Mina Akibat Langkah Tanpa Pertimbangan.

Kebijakan ceroboh Wamenhaj tanpa kalkulasi matang berdampak fatal di Mina. Akibat salah perhitungan, banyak jemaah haji telantar dan terpaksa tidak bisa tidur di dalam tenda.

Keempat, ​Pejabat Sibuk Urus Istri di Tengah Penderitaan Jemaah.

Di saat jemaah telantar, Menteri dan Wamenhaj Daniel Azhar justru sibuk mengurus istri masing-masing yang ikut dibawa ke tanah suci. Kehadiran para istri pejabat ini memicu pertanyaan besar, apakah mereka benar-benar melayani jemaah, dan apakah visa yang digunakan tidak mengambil jatah kuota haji milik rakyat.

​Dalam pernyataan resminya, Gus Adzim menyampaikan kritik langsung dan terbuka yang ditujukan kepada Menteri Haji, khususnya kepada Wamenhaj Daniel Azhar Simanjuntak.

​"Kami di KBIH merasa sangat dizalimi. Bagaimana mungkin kami selalu disalahkan, sementara sejak awal Wamenhaj Daniel Azhar tidak pernah sekalipun mengajak kami berdiskusi? Langkah-langkah yang diambil di lapangan itu tanpa pertimbangan matang. Akibatnya fatal, banyak jemaah yang terlantar dan tidak bisa tidur di tenda Mina!" tegas Gus Adzim dengan nada geram.

​Gus Adzim juga menyoroti kompetensi petugas. "Petugas yang dikirim banyak yang tidak faham Maqashid Syariah, bahkan yang ubudiyahnya berantakan pun dipaksa melayani jemaah. Sementara di sisi lain, Menteri dan Wamenhaj malah sibuk ngurus istrinya yang dibawa ke sana. Tolong dijawab, benar mau melayani jemaah? Dan tolong buktikan kalau visa istri-istri mereka itu tidak mengambil jatah kuota rakyat!" pungkas Gus Adzim.

​Kritik keras ini menjadi peringatan luar biasa bagi Kementerian Haji. Jemaah dan KBIH mendesak adanya evaluasi total terhadap kebijakan Wamenhaj Daniel Azhar Simanjuntak, yang dinilai egois dan minim empati demi ke Afsah Han Ibadah Jamaah & Kenyamanaan JAMAAH…. * han