Tokoh
Gus Yahya: Kepemimpinan NU ke Depan Kombinasi Kuasai Isu Global dan Penguatan Tradisi Spiritual Pesantren
JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa kepemimpinan NU di masa depan harus mampu menjawab tantangan era digital dan dinamika global.
JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa kepemimpinan NU di masa depan harus mampu menjawab tantangan era digital dan dinamika global.
Organisasi Islam terbesar di Indonesia itu, kata Gus Yahya, tidak lagi bisa dikelola dengan cara-cara lama di tengah perubahan teknologi dan pola hidup masyarakat yang berkembang sangat cepat seperti sekarang ini
"Karena itu, PBNU saat ini mulai mengembangkan sistem digital untuk mendukung pengelolaan organisasi secara lebih modern dan terintegrasi," kata Gus Yahya.
Digitalisasi bukan lagi pilihan tambahan, kata Gus Yahya, melainkan kebutuhan mendesak bagi organisasi sebesar NU.
"Itulah sebabnya kami mengembangkan sistem digital untuk manajemen organisasi dan tentu saja yang dibutuhkan ke depan adalah kepemimpinan yang cukup punya pemahaman tentang soal ini," katanya.
Namun, tantangan NU menurut Gus Yahya tidak berhenti pada persoalan teknologi semata. Ia mengatakan bahwa NU kini berada dalam situasi global yang membuat organisasi tidak bisa lagi mengasingkan diri dari perkembangan dunia internasional.
Karena itulah, ia mendorong generasi muda agar tidak hanya bergantung pada media sosial dalam memahami agama, tetapi juga mencari jalur pembelajaran yang lebih terstruktur dan mendalam.
"Yang terbaik itu kalau dilakukan secara terstruktur. Artinya bukan hanya sekadar melihat-lihat YouTube atau sharing WA grup, tapi memang belajar secara terstruktur dan itu banyak platform yang menyediakan itu," jelasnya.
Selain belajar secara sistematis, Gus Yahya juga mengingatkan pentingnya mencari pembimbing spiritual yang benar-benar memiliki kapasitas rohani, bukan sekadar popularitas atau citra di media sosial.
Ini bukan soal citra ya. Banyak orang yang citranya seolah-olah sakti atau keramat tapi sebetulnya kapasitasnya untuk mentransfer kapasitas ruhani itu dipertanyakan.
Ia menilai tradisi pesantren dan tarekat di lingkungan NU masih menjadi ruang penting untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kedalaman spiritualitas agama.
"Dalam tradisi NU itu masih tersedia simpul-simpul yang memang memiliki kredibilitas nyata untuk mampu mentransfer atau mendorong tumbuhnya kapasitas rohani kepada orang lain. Ada pesantren-pesantren dengan kiai-kiai yang memang punya kemampuan seperti itu," tutur Gus Yahya.
Menurutnya, tantangan terbesar NU di era digital bukan hanya soal kemampuan mengikuti teknologi, tetapi juga bagaimana menjaga dimensi spiritual masyarakat agar tidak hilang di tengah banjir informasi.
Oleh karena itu, Gus Yahya menilai masa depan NU harus dibangun dengan kombinasi antara modernisasi organisasi, penguasaan teknologi, keterbukaan terhadap isu global, dan penguatan tradisi spiritual pesantren yang selama ini menjadi fondasi utama Nahdlatul Ulama . (kcm/tir)