Suara Nahdliyin

Warta / Internasional

Gus Yahya Bertemu PM Malaysia, Bahas ASEAN Pusat Ekonomi Syariah

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) aktif mendorong agar ASEAN, khususnya Indonesia, jadi pusat ekonomi syariah dunia.

6 Juni 2026 05.27
Gus Yahya Bertemu PM Malaysia, Bahas ASEAN Pusat Ekonomi Syariah
Gus Yahya saat menerima delegasi DPMM di Gedung PBNU.

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Hubungan Indonesia - Malaysia semakin erat dengan adanya kedekatan antara para tokoh dua negara. Kerjasama dua negara bukan hanya dilakukan oleh pemerintah tapi juga dilakukan antara organisasi masyarakàt maupun organisasi profesi di dua negara.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) misalnya sudah menjalin hubungan erat dengan pengusaha Malaysia yang tergabung dalam Dewan Perniagaan Melayu Malaysia (DPMM) yang terdiri atas 12 pengusaha dan pengurus kamar dagang. Rombongan DPMM sudah mengunjungi PBNU di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Kali ini Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang akan melakukan kunjungan resmi ke Malaysia. Gus Yahya dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Dato’ Sri Anwar Ibrahim pada 12-13 Juni 2026. Pertemuan tersebut rencananya akan membahas kerja sama konkret di bidang ekonomi syariah.

Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menyampaikan bahwa agenda kunjungan tersebut menjadi tindak lanjut dari komunikasi intensif antara NU dan Malaysia. Ia menegaskan komitmen kedua pihak untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah melalui kerja sama strategis lintas negara.

“Dan insyaallah, dalam kunjungan Gus Yahya ke Kuala Lumpur minggu depan akan ditandatangani beberapa MOU yang akan menandai kerja sama yang lebih teknis antara Indonesia, dalam hal ini NU, dan Malaysia,” kata Gus Ulil dikutip dari NU Online, Sabtu (6/6/2026).

Gus Ulil menjelaskan bahwa pembahasan kali ini bersifat teknis dengan melibatkan NU Halal Center, Lembaga Pengembangan Pertanian NU, serta Sarikat Buruh Muslimin Indonesia.

Dia menekankan pentingnya mengembangkan area kerja sama yang dapat diwujudkan secara nyata. “Jadi, tadi itu pembicaranya lebih teknis ya, kita membicarakan tentang area-area yang bisa kita kerjasamakan secara real,” katanya.

Ia menjelaskan, NU menjalankan sektor ini melalui entitas bernama Nahdlatul Ulama Harvest Maslaha (NHM), hasil kerja sama dengan lembaga investasi Singapura, Harvest Advisor. Lembaga tersebut dikenal sebagai salah satu investor besar di Asia dan kini menjalin kemitraan dengan NU.

“Jadi, ini kolaborasi antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Insyaallah akan sangat bagus dengan keunggulannya masing-masing," katanya.

"Indonesia punya pasar besar, Malaysia punya pengalaman yang cukup panjang dalam pengembangan ekonomi syariah, kemudian Singapura sebagai investment hub di tingkat dunia yang punya pengalaman yang sangat canggih,” katanya

Kerja sama antara tiga negara ini, insyaallah, diyakini mampu mengembangkan ASEAN sebagai pusat syariah di tingkat dunia. (jok)