Suara Nahdliyin

Opini

Gus Ipul Rajin Cari Kambing Hitam Jelang Muktamar

Sebelum perhelatan tertinggi ke-35 di NU, sejumlah PWNU maupun PCNU mengakui manfaat Digdaya sangat besar, baik efektivitas maupun efisiensinya kerja organisasi.

2 Juni 2026 19.08
Gus Ipul Rajin Cari Kambing Hitam Jelang Muktamar
ilustrasi: redaksi

Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengadakan pertemuan bersama jajaran PWNU, Rais Syuriah dan Ketua PCNU se-Nusa Tenggara Timur (NTT) di Hotel Naka Kupang beberapa hari lalu.

Dalam kesempatan itu banyak kalangan menilai Gus Ipul seperti curhat tentang konflik di PBNU, tapi ujung-ujungnya pria yang menjabat Menteri Sosial ini sejatinya ingin cuci tangan mengingat yang bersangkutan bagian dari konflik yang ia sebutkan itu. Bahkan, Gus Ipul dinilai aneh mengingat ia adalah aktor utama dalam konflik di tubuh PBNU. Khususnya geger pemecatan sepihak oleh Rais Aam terhadap Gus Yahya selaku ketua umum PBNU beberapa waktu lalu.

Betapa tidak, salah satu yang dibahas Gus Ipul dalam pertemuan dengan PWNU dan PCNU se-NTT itu terkait isu SK PW dan PCNU yang tidak segera diselesaikan. Mampet selama satu tahun.

Padahal soal SK ini sudah jelas menjadi tugas kesekjenan, tapi dalam kesempatan itu, Gus Ipul malah terkesan mencari kambing hitam. Ia mengemas dirinya sendiri agar jadi sosok yang bersih. Sosok yang seakan tidak bersalah dalam gonjang ganjing di tubuh PBNU.

Maka Gus Ipul melempar kesalahan pada pihak lain: Manajemen Digdaya (Digitalisasi Data dan Layanan Nahdlatul Ulama)--terobosan aplikasi digital yang diinisiasi oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) untuk kecepatan dan efisiensi layanan di PBNU.

Gus Ipul mengaku tidak bisa mengakses Digdaya. Ini sungguh aneh sebab surat menyurat termasuk penerbitan SK pintu pertamanya ada pada Sekjen. Posisi yang sangat vital ini tidak mungkin tidak bisa mengakses Digdaya.

Gus Ipul membantah bahwa keterlambatan SK itu bukan karena dirinya sengaja menghambat. "Bukan saya tidak mau tandatangan tetapi soal Manajemen Digdaya yang susah diakses oleh saya selaku Sekjen," katanya.

Namun siapa yang percaya. Apalagi sudah banyak PWNU maupun PCNU mengakui manfaat Digdaya sangat besar, baik efektivitas maupun efisiensinya kerja organisasi.

Dalih Gus Ipul bahwa aplikasi Digdaya hanya bisa diakses oleh Ketua Umum PBNU, sehingga administrasi semua terhambat, juga tidak masuk akal sebab sistem digital ini didesain mudah digunakan untuk membantu mempercepat kerja pengurus NU di seluruh Indonesia.

Berita terkait:

PWNU-PCNU Sepakat Program DIGDAYA Prestasi Membanggakan PBNU Era Gus Yahya


Pertanyaannya, Gus Ipul tidak bisa akses atau tidak mau? Pasalnya, ia sejak awal terkesan apriori pada program Digdaya ini. Bahkan ia terkesan ingin menjegal program ini agar gagal.

Lihat saja, Gus Ipul menilai bahwa sistem aplikasi Digdaya tidak baik sehingga tidak memenuhi pengelolaan administrasi secara digital. Karena itu, kedepan Gus Ipul akan meniadakan aplikasi ini. "Dan kembali ke sistem administrasi manual," katanya mengumbar rencananya mundur ke masa lalu.

Bukan hanya soal terhambatnya SK PWNU dan PCNU saja, Gus Ipul juga berusaha cuci tangan terkait gonjang ganjing konsesi tambang yang diberikan Pemerintah kepada ormas, termasuk kepada NU.

Lagi-lagi dalam pernyataannya Gus Ipul memojokkan Gus Yahya selaku ketua umum PBNU. Selama ini, tuding Gus Ipul, semua terkait tambang mineral ini dikelola penuh oleh Gus Yahya dan Timnya.

Mulai dari direktur dan seluruh jajarannya. Juga pengelolaan beberapa PT milik PBNU dikelola Oleh Gus Yahya dengan Timnya Gus Ipul sendiri mengaku tidak masuk persoalan tambang.

"Saya tidak pernah sentuh persoalan manajemen tambang," kata Gus Ipul. Masyarakàt tahu bahwa Gus Ipul sedang playing victim sebab sudah terungkap semua manuvernya untuk mendongkel Gus Yahya tapi selalu gagal.

Semua safari ke daerah yang dilakukan oleh Gus Ipul itu tujuannya untuk merusak citra Gus Yahya selaku petahana dalam pemilihan ketum PBNU di Muktamar ke-35 NU Agustus 2026.

Sebaliknya, Gus Ipul disebut-sebut gencar mengarahkan seluruh PW dan PCNU untuk membentuk Tim Dukungan ke Rais Aam PBNU. Untuk itu Gus Ipul memunculkan dua nama yakni KH Miftachul Akhyar dan KH Asep Saifuddin Chalim.

Sementara untuk Ketum PBNU Gus Ipul gencar menyodorkan Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Kiai Zulfa Mustofa. Seluruh PWNU akan menjadi Tim Konsolidasi PCNU di masing-masing daerah se- NTT. Dan ini bukan hanya di NTT.

Safari Gus Ipul untuk mendown-grade reputasi Gus Yahya akan terus dilakukan ke daerah lain, meski para kader NU sudah tahu siapa yang bersungguh-sungguh berkhidmat untuk NU dan siapa yang sekadar menjadikan NU jadi batu loncatan untuk memenuhi syahwat politik kekuasaannya belaka.


(SuaraNahdliyin.id)