Suara Nahdliyin

Jam'iyyah

Gerak Cepat, Panitia Munas dan Konbes NU Mulai Matangkan Materi untuk Muktamar

JAKARTA ( SuaraNahdliyin.id ) – Panitia Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU langsung bergerak cepat, untuk mensukseskan rencana pelaksanaan Muktamar ke-35 NU mendatang. Sekretaris Steering Committee (SC), Prof Mohammad Nuh b

30 Mei 2026 17.30
rapat-pbnu-2_1778682843
JAKARTA ( SuaraNahdliyin.id ) – Panitia Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU langsung bergerak cepat, untuk mensukseskan rencana pelaksanaan Muktamar ke-35 NU mendatang. Sekretaris Steering Committee (SC), Prof Mohammad Nuh b

JAKARTA ( SuaraNahdliyin.id ) – Panitia Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU langsung bergerak cepat, untuk mensukseskan rencana pelaksanaan Muktamar ke-35 NU mendatang. Sekretaris Steering Committee (SC), Prof Mohammad Nuh bersama panitia yang lain, mulai merumuskan materi yang akan dibahas dalam Munas-Konbes NU mendatang.

Ia menegaskan, bahwa pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang direncanakan pada Agustus 2026 mendatang, sudah tidak lagi terjadi perdebatan di internal organisasi. Meski semua itu tetap menunggu hasil keputusan Munas dan Konbes NU mendatang.

“Alhamdulillah, Muktamar sudah disepakati. Sudah tidak ada dispute lagi tentang kapan pelaksanaan Muktamar. Insyaallah Agustus 2026,” ujar Prof Nuh usai rapat panitia Muktamar ke-35 NU di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Rabu (13/5/2026) malam.

Menurut Prof Nuh, untuk mewujudkan Muktamar yang berkualitas, sejuk, dan bermartabat diperlukan tahapan persiapan yang matang. “Itulah yang kita bahas tadi. Waktunya, insyaallah, sudah ada guidance,” katanya.

Ia pun menjelaskan, terdapat tiga isu besar yang harus segera disiapkan panitia menjelang Munas-Konbes dan Muktamar. Pertama, terkait materi dan substansi yang akan dibahas. “Oleh karena itu, kita harus bergerak cepat, baik menyiapkan materi maupun menghimpun berbagai masukan,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya partisipasi luas dari lembaga-lembaga NU, PWNU, PCNU, hingga masyarakat umum dalam merumuskan isu-isu strategis bagi masa depan NU. “Tidak hanya dari lembaga kita sendiri, perguruan tinggi apa pun juga boleh memberikan pandangan tentang apa yang harus kita siapkan. Sehingga di ranah publik, diskursus tentang materi itu menjadi kuat,” ujarnya.

Nuh juga menegaskan bahwa proses menuju Muktamar tidak boleh bersifat top down. Ia mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen NU hingga komunitas masyarakat lainnya. “Kita harus menggerakkan PCNU, tidak boleh top down. Justru partisipasi dari PW, PC, sampai masyarakat dan komunitas lain juga kita welcome,” tegasnya.

Menurut Nuh, aspek teknis pelaksanaan juga menjadi perhatian penting. Namun, yang paling utama adalah memastikan Munas-Konbes dan Muktamar mampu melahirkan produk strategis yang memberi kemanfaatan besar bagi NU ke depan. “Karena sekarang kita berada pada titik potong, akhir abad pertama dan awal abad kedua,” katanya.

Menurutnya, fase peralihan tersebut menjadi momentum krusial untuk memastikan ruh perjuangan NU sejak didirikan pada 1926 tetap tersambung hingga masa kini. Ruh tersebut, lanjutnya, termuat dalam Qonun Asasi dan nilai-nilai kemaslahatan yang menjadi dasar perjuangan NU.

“Cara perkhidmatan kita bisa jadi berubah, tetapi esensinya tidak berubah, yaitu untuk kemaslahatan. Kemaslahatan pada zaman sebelum digital dengan era digital tentu memiliki gaya yang berbeda,” pungkasnya. nuo/ris