Suara Nahdliyin

Jam'iyyah / Muktamar NU

Dari Ploso ke Lirboyo?

Benny Benke, jurnalis yang juga penyair dan pengamat masalah NU membuat ulasan menarik terkait usulan Sekjen PBNU sekaligus Panitia Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

4 Juni 2026 11.01
Dari Ploso ke Lirboyo?
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bertemu para Rais Syuriah PCNU di PP Lirboyo Kediri.

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Saat Rapat Pleno PBNU 21 Mei 2026, Gus Ipul mengusulkan PP Al-Falah Ploso Kediri menjadi tuan rumah Munas Alim Ulama dan Konbes NU. Sepintas, kata Benny Benke, usulan Gus Ipul agar Munas-Konbes NU digelar di PP Al-Falah Ploso itu tampak wajar. Bahkan terdengar sebagai bentuk penghormatan kepada KH Nurul Huda Jazuli.

Namun, dalam politik organisasi, hal yang tampak lurus di permukaan kerap menyimpan tikungan di belakangnya. Konteksnya jelas: ada aspirasi kuat dari banyak PCNU, terutama Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi, agar Muktamar ke-35 NU diselenggarakan di pesantren—bahkan secara eksplisit di PP Lirboyo, Kediri.

"Aspirasi ini bukan sekadar soal lokasi, melainkan kebutuhan NU untuk kembali ke suasana pesantren setelah konflik internal yang melelahkan. KH Nurul Huda Jazuli sendiri, saat Gus Yahya bersilaturahmi Lebaran, berpesan agar Muktamar ke-35 digelar di Lirboyo. Alasannya sederhana, tetapi mendalam: agar NU kembali adem (teduh), dan keputusan muktamar lebih mudah diterima semua pihak. Lirboyo dinilai tepat karena keteguhannya dalam menjaga nilai-nilai pesantren, sekaligus memiliki tenaga dan fasilitas yang memadai," katanya.

Karena itu, Benny melanjutkan, usulan Munas-Konbes di Ploso patut dibaca lebih cermat. Sebab, lazimnya Munas-Konbes dan Muktamar tidak digelar di tempat yang berdekatan. Jika Munas-Konbes sudah ditempatkan di Ploso—yang sama-sama berada di Kediri—maka aspirasi Muktamar di Lirboyo bisa diganjal dengan alasan teknis: "Masak dua forum besar NU berturut-turut digelar di Kediri?"

Di sinilah letak manuvernya. Ploso seolah dijadikan simbol penghormatan kepada kiai dan pesantren, tetapi efek politiknya justru berpotensi melemahkan pesan substantif dari Kiai Huda: bahwa Muktamar harus kembali ke pesantren, khususnya ke Lirboyo.

Lebih jauh, muncul kesan bahwa sebagian pihak memang lebih nyaman bila Muktamar tidak digelar di pesantren, melainkan di tempat yang lebih mudah dikendalikan secara teknis dan politis. Katanya pondok, tetapi bukan pondok pesantren: Pondok Gede, asrama haji, misalnya.

Karena itu, usulan Ploso perlu dibaca secara jernih. Hormat kepada Ploso dan Kiai Huda tentu wajib. Namun, penghormatan sejati kepada Kiai Huda bukanlah sekadar membawa nama Ploso, melainkan mendengarkan pesan beliau: setelah konflik yang keras, NU harus kembali adem, kembali ke pesantren, dan Muktamar sebaiknya digelar di Lirboyo.

"Jangan sampai nama pesantren dipakai sebagai jalan memutar untuk menjauhkan NU dari ruh pesantren itu sendiri," katanya.

Kini Rais Aam KH Miftachul Akhyar sudah memutuskan, bahwa Munas-Konbes NU digelar di PP Al Falah Ploso Kediri 20-21 Juni 2026. Lalu, akankah aspirasi yang muncul dalam Forum Halalbihalal Rais Syuriah PCNU se-Jawa Timur di PP Lirboyo pada Kamis (7/5/2026)--yang salah satu rekomendasinya mengusulkan pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) digelar di Pondok Pesantren Lirboyo-- akan terwujud? Wallahualam. Kita tunggu saja hasil Munas Alim Ulama dan Konbes NU! (jok)