Jam'iyyah
Aliansi Santri Gus Dur Soroti Munculnya Tim Sukses Calon Rais Aam
Rais Aam bukan jabatan politik, bukan pula jabatan yang diperebutkan. Karena Rais Aam adalah pimpinan tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU). Sosok yang menduduki posisi ini secara tradisi adalah ulama yang sangat alim (berilmu tinggi), zuhud, matang secara spiritual, dan menjauhi ambisi politik kekuasaan.
Sungguh miris jika saat ini muncul adanya isu gerakan yang beraromakan politik dari pihak tertentu, untuk mempengaruhi pengurus-pengurus NU agar mendukung salah satu calon rais aam. Isu yang kini ramai di kalangan santri ini membuat gerah sejumlah aktivis muda NU yang tergabung dalam Aliansi Santri Gus Dur.
Mereka mengungkapkan keprihatinan mendalam, jika memang isu tersebut benar. Pasalnya, dalam perjalanan sejarah NU justru kedudukan rais aam ini sangat ‘dijauhi’ oleh para kiai. Mereka berebut menolak jabatan yang sangat sakral tersebut.
Ketua Aliansi Santri Gus Dur Muhammad Sholihin menyatakan, warga NU sudah terluka batinnya atas adanya konflik elit PBNU. Sekarang warga semakin terluka batin mengetahui jabatan Rais Aam diperebutkan sampai membentuk tim sukses untuk persiapan Muktamar.
Warga NU merasa malu dan resah, mengapa ada konflik di elit PBNU, dan ada gerakan politik ambisi menjabat Rais Aam, tutur Sholihin, di Jakarta, Rabu (27/5/2026).
Sholihin mengingatkan, sejak NU didirikan, tidak pernah ada orang berambisi menjadi Rais Aam. Bahkan setiap ada yang dipilih sebagai Rais Aam, selalu menolak karena merasa tidak mampu mengemban amanah besar tersebut.
“Mari kita baca sejarah NU, dulu Mbah Wahab ditunjuk paksa menjadi Rais Aam menggantikan KH Hasyim Asy’ari yang telah wafat. Lalu Mbah Bisri Syansuri dipaksa jadi Rais Aam setelah Mbah Wahab wafat,†ungkap alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini.
Bahkan waktu itu, lanjut Sholihin, Mbah Bisri Syansuri sudah terpilih sebagai Rais Aam. “Tapi apa yang disampaikan Mbah Bisri. Selama masih ada Mbah Wahab, beliau menolak sebagai Rais Aam. Inilah penghormatan kiai-kiai dulu terhadap kiai sepuh,†tegasnya.
Bahkan ketika Muktamar Ke-28 NU tahun 1989 di Krapyak Yogyakarta, lanjut Sholihin, sang tuan rumah yaitu KH Ali Maksum, bersikeras tidak mau dicalonkan menjadi Rais Aam. Bahkan Kiai Ali tidak menghadiri sidang pleno pemilihan. Begitupun seterusnya berlaku di setiap pemilihan Rais Aam PBNU. Selalu rebutan menolak, hingga akhirnya ada satu orang yang dipaksa ‘mengalah’ mau menerima amanah.
“Ada deklarasi calon Rais Aam. Lalu poster bergambar calon Rais Aam beredar di media sosial, bahkan dipromosikan, hal itu sungguh menurunkan marwah ulama,†ujar Sholihin.
Ia menegaskan, Rais Aam adalah pemegang otoritas tertinggi di kepengurusan NU, hal ini yang membedakan dengan struktur kepengurusan di organisasi kemasayarakatan lainnya. Rais Aam hanya patut ditempati oleh ulama yang ‘sempurna’ dari segi keilmuan, keteladanan akhlak, dan wawansan kebangsan.
“Rais Aam harus diisi orang yang ‘sempurna’ dalam keilmuan, keteladanan, maupun wawasan kebangsaan,†tutur alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.
Untuk memilih sosok ‘sempurna’ itu, kata dia, harus diserahkan kepada para kiai sepuh yang masyhur zuhudnya, masyhur wira’inya. Sehingga jiwa tulus mereka bisa memilih siapa yang patut menjadi pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama. “Kiai-kiai sepuh ini sudah terwakili dalam sistem pemilihan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA),†tegasnya.
Untuk itu, ia mengajak, seluruh pihak untuk membiarkan Muktamar NU berjalan sebagaimana tradisi yang telah lama berjalan, yaitu calon Rais Aam baru diketahui ketika Muktamar telah sampai pada tahap akhir, yaitu pemilihan calon pengurus PBNU.
“Biarlah berjalan sesuai tradisi NU, pemilihan Rais Aam diserahkan kepada para kiai sepuh di NU yang lebih tahu dan memahami kebutuhan, serta kepentingan Nahdlatul Ulama untuk menjaga peran besar NU bagi agama bangsa dan negara,†pungkasnya. aku/ris
Kutipan penting
Subjudul baru
Kutipan penting
Kutipan penting
Kutipan penting
Kutipan penting
Kutipan penting
Kutipan penting
Kutipan penting
Kutipan penting